Category - Uncategorized

Viral, Bercadar Namun Pelihara 11 Anjing, Hesti Sutrisno Tak Peduli dengan Gunjingan Tetangga

60detik.com – Rumah wanita bercadar pemelihara 11 anjing, dan berbagai jenis hewan lainnya seperti kucing, musang, dan burung itu nampak beda dengan rumah di sekelilingnya.

Bagian depan rumahnya dipenuhi kandang, sangkar burung, dan ada satu anjing berwarna hitam yang dirantai, namanya John. Anjing itu tampak dijadikan sebagai penjaga rumahnya. Ketika John menggonggong, Hesti tidak ragu mengelus bagian atas kepalanya untuk menenangkan si John.

Rumahnya berantakan, berbanding terbalik dengan rumah-rumah disebelahnya. Dirinya seperti tidak mempedulikan keindahan bagian depan rumahnya, demi menaruh kandang-kandang hewan itu.

Berlokasi di Pondok Benda Residence, Pamulang, Tangerang Selatan. Hesti Sutrisno (37), wanita muslim yang kesehariannya memakai cadar itu mendadak viral karena hal yang bisa dibilang tidak biasa. Bagaimana tidak, dirumahnya terdapat 11 ekor anjing, 20 ekor kucing, dan beberapa binatang peliharaan lainnya seperti musang, ayam, bebek, dan burung.

Semua hewan tersebut dipelihara, diberi makan, dirawat dengan baik. Namun ketika ditanya berapa biaya yang dikeluarkan untuk hal-hal itu, Hesti enggan menyebutkan nominalnya, dirinya tidak menghitung biaya yang dikeluarkan untuk perawatan puluhan hewannya tersebut.

“Saya nggak perhitungan dan nggak ngitungin begitu sih mas orangnya, yang penting mereka bisa makan,” ungkap Hesti.

Wanita bercadar itu tidak merasa terganggu dengan omongan tetangga yang ramai memperbincangkan dirinya setelah kediamannya ramai didatangi media.

Kerap kali dia pergunjingkan oleh para tetangga nya, ungkap salah satu tetangga yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa rumahnya berbau tidak enak akibat kotoran binatang-binatang, dan mereka merasa terganggu dengan bau-bau tersebut.

“Iya rumahnya bau sendiri, depannya banyak kandang-kandang ayam tuh, kadang berisik gonggongan anjingnya,” ungkap salah satu warga.

“Emang kenapa sih media pada kerumahnya? Value nya apa ya?,” tanya salah satu warga.

“Aneh juga sih dek, masa pakaiannya begitu kan biasanya bener ya, tapi kok ini piara anjing, kan nggak boleh kalo di islam,” tutur salah satu warga di warung yang tidak jauh dari rumahnya.

Hesti menegaskan bahwa ia tidak ambil pusing terhadap apa yang orang lain bicarakan. Ia menambahkan bahwa sebenarnya dirinya heran mengapa banyak media datang ke kediamannya.

“Saya sih ga peduli omongan orang atau apapun, nggak ngurusin, saya sibuk ngurusin kripik saya,” ujar Hesti.

“Saya juga bingung kenapa banyak media pada kesini, saya capek, saya juga belum baca berita-berita di internet,” tambah Hesti.

Hesti mengatakan  rumahnya akan didatangi perwakilan dari London untuk mengunjungi dirinya terkait pemberitaan tentang sosoknya di media sosial yang sedang viral belakangan ini.

“Nanti saya juga ada tamu nih dari London, udah janjian dari tiga hari lalu,” ujar Hesti.

Namun Hesti enggan menjelaskan lebih banyak untuk apa perwakilan dari London, Inggris tersebut menyambangi rumahnya.

 

Ayah Anjasmara dan Didi Mahardika Meninggal Dunia

60detik.com – Berita duka! Ayah Anjasmara dan Didi Mahardika, Benny Soemarno, meninggal dunia dini hari pukul 03.00 WIB, Senin (2/4). Kabar tersebut pertama kali diketahui lewat akun Instagram kedua putranya tersebut.

anjasmara.jpg

Di akun Instagram Anjasmara, pria tersebut mengunggah foto lawas sang ayah yang mengenakan kopiah dan busana berwarna hitam. Bersamaan dengan foto setengah badan tersebut, Anjasmara tuliskan detail kepergian sang ayah.

”Telah wafat Ayah kami Drs. Benny Soemarno Bin Moermin. Lahir 19 mei 1949 Wafat 2 April 2018 pukul 3.00 WIB. Jenazah di semayamkan di Aula Universitas Bung Karno jalan Kimia. Pukul 14.00 -15.00,” tulis Anjasmara di Instagram.

anjasmara1.jpg

”Di makamkan hari ini setelah Ashar pukul 15.30 wib di TPU karet Bivak blok AA1. Mohon maaf sekiranya ada kesalahan yg telah di lakukan Oleh Almarhum dan Mohon doa agar Almarhum di berikan tempat yg terbaik di sisi Allah SWT,” lanjut Anjasmara.

Seperti diketahui, Benny Soemarno adalah suami dari Rachmawati Soekarnoputri yang tidak lain adalah ibu Didi Mahardika. Benny menikah dengan Rachmawati setelah bercerai dengan ibu Anjasmara.

7 Lokasi Selfie Paling Berbahaya yang Harus Kamu Hindari

60detik.com – Siapa yang tak suka mengabadikan momen terbaik dirinya? Nyaris tak ada. Dan seiring perkembangan media sosial, potret diri oleh diri sendiri alias selfie kian lekat dengan gaya hidup masyarakat, terutama milenial.
Masalahnya, kadang momen terbaik itu tak datang begitu saja. Padahal, bagi banyak milenial, Instagram mesti diisi rutin untuk menunjukkan eksistensi diri. Maka, tak jarang untuk memperoleh foto bagus yang Instagramable, berbagai cara dilakukan, dari yang masuk akal sampai ‘kehabisan akal’ atau bahkan tak pakai akal.
Mulai mendatangi kafe yang punya spot foto menarik untuk selfie (bukan untuk menikmati sajian makanannya) hingga berselfie di tempat berbahaya.

Lipsus Republik Selfie

Republik Selfie. (Foto: Shutterstock)

Berikut deretan spot selfie berbahaya yang kerap bikin celaka dan sebaiknya kamu jauhi untuk berswafoto.
1. Rel Kereta
Lintasan kereta jelas bukan tempat aman untuk selfie. Saat kamu sedang berkonsentrasi pada kamera ponsel, bisa jadi kamu tak sadar kereta datang. Bila itu sampai terjadi, akibatnya fatal seperti pada video Instagram di atas.
2. Bangunan tinggi

Senang dengan ketinggian, pintar memanjat, atau menyukai aktivitas yang memacu adrenalin memang tak salah, asalkan dilakukan di tempat yang tepat. Kalau amatir, jangan coba-coba meniru ulah Angela Nikolau dari Moskow.
Untuk mendapatkan foto menarik dan anti-mainstream, Nikolau rela memanjat puncak-puncak tinggi di dunia.
Memiliki pengikut sekitar 550 ribu orang, wanita cantik ini sudah pernah berfoto di Hong Kong Victoria Park, Victoria Peak, hingga mesin derek atau crawler crane tertinggi di dunia yang berada di Tianjin, China.
Kini, semakin banyak orang yang hobi selfie di puncak bangunan tinggi.
Jangan pernah memanjat tanpa pengaman. Wu Yongning, seorang pria China yang dikenal gemar memanjat gedung-gedung tinggi, jatuh dan tewas karenanya.
3. Tepi Tebing
Selfie di pinggir tebing memang bisa membuat foto kamu sangat anti-mainstream. Belum lagi, kesan jiwa petualang yang kuat pasti akan langsung terlihat dari fotomu. Tapi, tebing sudah pasti salah satu spot berbahaya untuk berselfie.
Salah langkah sedikit saja, kamu bisa langsung celaka dan jatuh ke jurang.
4. Dekat kawah gunung api
Menjelajah alam tentu boleh. Tapi kamu harus ingat, alam memiliki tempat dan aturannya sendiri, plus punya kekuatan jauh lebih hebat dari yang disangka manusia.
Oleh sebab itu, saat bertualang di tempat wisata, kamu juga harus memikirkan sisi keamananmu. Jangan seperti beberapa pengunjung ini yang malah selfie di pinggir kawah gunung api aktif.
Tak mudah berfoto di sekitar kawah gunung api karena ini area berbahaya. Meleng sedikit, kamu bisa tercebur ke dalam kawah yang panas menggelegak.
5. Jalan Raya
Selfie saat berolahraga atau melintas di jalan raya memang bisa menghasilkan foto menarik. Tapi, selfie di tempat seperti ini sebaiknya kamu lakukan saat kondisi sangat sepi agar tidak mengganggu lalu lintas atau mengancam keselamatan pengendara lain.
Jangan selfie di jalan tol! Bukan saja karena menyalahi peraturan, tapi juga bisa membahayakan pengendara lain yang sedang melintas.
6. Monumen Bersejarah
Kadang-kadang kita lupa ada beberapa spot yang tidak memperbolehkan pengunjungnya untuk berselfie. Contohnya saja The Holocaust Memorial di Berlin, Jerman, yang merupakan monumen untuk mengenang orang-orang Yahudi korban genosida oleh Nazi pada Perang Dunia II.
Masih ingat kan apa yang terjadi ketika Syahrini berselfie ria di tempat itu? Ia dianggap tidak menghargai sejarah kelam.
Jangan lupa juga, selfie di tempat bersejarah atau monumen ikonik bisa jadi petaka apabila tidak dilakukan dengan hati-hati, seperti di patung Christ the Redeemer atau Kristus Penebus yang berlokasi di Rio de Janerio, Brasil, ini.

Mitsubishi Xpander Berhasil Jadi Mobil Terbaik 2018

60detik.com – Mobil small Multi Purpose Vehicle (MPV) keluaran Mitsubishi Motors, Xpander, meraih penghargaan ‘Car of The Year ‘ (COTY) di ajang 11th Otomotif Award 2018. Mobil yang diluncurkan saat pergelaran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 ini dianugerahkan setelah menjadi yang terbaik di kelasnya dengan penghargaan ‘Best Low MPV’ dan ‘Best of The Best MPV’

Total sudah ada lima penghargaan yang pernah disabet Xpander. Selain ketiga penghargaan di atas, small MPV ini juga pernah memperoleh penghargaan New Kid on The Road of The Year versi ICar Asia People’s Choice Awards 2017 dan 1st Winner Favorite Car di GIIAS 2017.

Xpander berhasil memenangkan penghargaan Car of The Year 2018 setelah melewati proses penilaian ketat dari tim redaksi Otomotif tabloid. Tim redaksi telah membuat beberapa kriteria khusus untuk memilih Car of The Year.

“Tim redaksi Otomotif tabloid menerapkan kriteria khusus untuk penilaian dan pemilihan Car of The Year. Tentu saja kandidatnya dipilih dari pemenang di masing-masing kelas/kategori dan lebih lanjut dilakukan evaluasi dari berbagai aspek. Pengujiannya dilakukan dengan metode khusus yang menggunakan beberapa faktor penilaian, seperti desain, fitur, performa, handling, konsumsi bahan bakar, harga, dan faktor kebaruan. Selain itu, redaksi Otomotif tabloid juga mempertimbangkan berbagai aspek, seperti antara lain penerimaan masyarakat, termasuk penjualan, engagement dengan konsumen termasuk komunitas, dan juga value for money terbaik untuk konsumen,” ujar Panji Maulana, Pemimpin Redaksi Otomotif Tabloid.

Penghargaan Car of The Year yang untuk Xpander pun diterima langsung oleh Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Kyoya Kondo. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada tim Otomotif sebagai penyelenggara acara penghargaan.

“Xpander lahir dari harapan dan keinginan masyarakat Indonesia akan model small-MPV yang ideal. Penghargaan Car of The Year yang diterima Xpander membuktikan bahwa produk ini dapat memenuhi ekspektasi dan kebutuhan konsumen akan small MPV dan mobil keluarga di Indonesia. Apresiasi kami terhadap tim Otomotif yang telah membuat penghargaan bergengsi ini yang ditunggu oleh semua merek,” ujar Kondo.

Ia melanjutkan, penghargaan tersebut didekasikan kepada pelanggan setia Mitsubishi yang telah mendukung, memercayakan, dan menerima Xpander.  Kondo berjanji akan selalu menyediakan produk terbaik untuk para pelanggan di Indonesia.

Mobil paling laris

Memang bukan tanpa alasan Xpander terpilih jadi Car of The Year 2018. Pasalnya, mobil yang diproduksi di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat ini merupakan mobil small MPV paling laris sepanjang 2017-2018.

Berdasarkan data wholesales–penjualan pabrik ke dealer–pada periode Januari hingga Februari 2018, total penjualan Xpander mencapai 14.479 unit. Bahkan, sejak diluncurkan pada September 2017, sekitar 60 ribu unit Mitsubishi Xpander berbagai tipe telah dipesan oleh konsumen. Kyoya Kondo pun menyatakan pencapaian tersebut merupakan salah satu catatan baik di tahun 2017.

Melihat minat masyarakat yang begitu tinggi, PT MMKSI pun berkomitmen memenuhi permintaan pelanggan. Untuk memenuhi permintaan konsumen di Indonesia maupun pasar ekspor, saat ini kapasitas produksi pabrik Xpander pun telah ditingkatkan hingga 10,000 unit per bulan.

Jumlah tersebut termasuk untuk ekspor. Xpander sudah dijadwalkan akan diekspor ke Filipina pada Mei 2018 dan beberapa pasar Asia lainnya juga pada tahun ini.

Sebagai informasi, ada empat keunggulan yang menjadi poin utama penjualan Xpander, yaitu desain atraktif, ruang kabin luas dan nyaman, interior fungsional, serta keamanan dan kenyamanan berkendara. Berbagai kelebihan ini berhasil membuat Xpander mendapat peringkat Bintang 4 dari ASEAN New Car Assesment Program (NCAP) dengan skor total 71,66 poin.

Informasi produk Xpander selengkapnya dapat dilihat di mitsubishixpander.com

Jangan Ngaku Suka Bola Kalau Belum Kenal Endang Witarsa, Sang Legend

60detik.com – Lapangan Petak Sinkian di Jalan Mangga Besar V, Jakarta Barat, menjadi tempat hiburan Endang Witarsa dan para karyawan kantoran yang menonton latihan sepakbola. Meski sudah tua dan kerap sakit-sakitan, Endang tak pernah lelah untuk datang dan melatih para pemain klub UMS (Union Makes Strength).

Dari tribun penonton, para karyawan kantoran sering tertawa melihat gaya Endang melatih. Sosok gaek itu tak segan berkata “goblok” kepada para pemain yang ia anggap salah. Kadang mereka memberi masukan kepada Endang, misalnya dengan memberi tahu jika ada pemain yang posisi bermainnya salah.

Pelatih tua itu lalu melihat pemain yang dimaksud, dan meniup peluit agar pemain tersebut menoleh, kemudian menghamburlah bentak, “Ngapain kamu jaga di situ, di sana, goblok!”

Penonton lalu tertawa berbahak-bahak sambil berkata, “Mampus lu!”

Kisah tersebut ditulis H. Isyanto dalam Drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe): Dokter Bola Indonesia (2010).

Waktu menggerus ingatan, kala menebas generasi yang terus berganti. Bagi anak muda hari ini, nama Endang Witarsa barangkali akan terdengar asing, dan hanya menyisakan terkaan sederhana yang keliru bahwa nama tersebut terdengar sangat Sunda.

Sebelum prestasi sepakbola nasional kerontang seperti hari-hari ini, Endang Witarsa pernah menorehkan namanya sebagai penyumbang gelar terbanyak bagi Timnas Indonesia. Sampai sekarang, belum ada yang bisa menandinginya.

Sepakbola dan Dokter Gigi

Endang lahir di Kebumen pada 12 Oktober 1916 dengan nama Liem Soen Joe. Ia anak bungsu dari sembilan bersaudara. Orang tuanya memiliki toko kelontong. Karena sang ibu sibuk mengurus toko dan pekerjaan rumah lainnya, Endang kecil diberi bola karet agar bocah tersebut asyik main sendiri.

Sejak kecil ia sudah menyukai sepakbola. Kakak laki-lakinya sering mengajak Endang menonton latihan atau pertandingan sepakbola di alun-alun Kebumen. Kakaknya itulah yang mula-mula mengajarinya menendang bola. Usia enam tahun, ia sudah pandai menggiring bola. Dengan anak-anak yang usianya lebih tua, ia mulai ikut bermain sepakbola.

Sebagai anak bungsu, Endang mendapat banyak perhatian dari kakak-kakaknya, termasuk sering dikasih uang. Karena hal tersebut, kawan-kawan Endang kerap mengandalkannya untuk menjajani mereka setelah bermain sepakbola.

Es-e rika inyong borong nek inyong wis rampung bal-balan. Pokoke, rika aja kuatir (Es kamu nanti saya borong tapi setelah kami selesai bermain sepakbola. Pokoknya, kamu tidak usah khawatir)” ujar Endang kepada seorang penjual es yang hendak pulang.

Kecintaan Endang kepada sepakbola berkali-kali ia perlihatkan dengan menempuh jarak puluhan sampai ratusan kilometer dengan bersepeda demi menyaksikan pertandingan. Ia akan mengajak kawan-kawannya pergi ke Purwokerto, Purworejo, Gombong, Yogyakarta, dan Kutoarjo jika di kota-kota tersebut ada pertandingan sepakbola.

3Endang bahkan pernah menggenjot sepeda dari Kebumen ke Semarang demi menyaksikan pertandingan klub Union Semarang melawan sebuah klub dari Cina.

“Kami menempuh jarak lebih dari 200 kilometer. Karena lelah, saya sempat menginap di sebuah hotel kecil Magelang. Satu kamar diisi beramai-ramai. Kami membayar secara patungan,” katanya seperti dikutip H. Isyanto

Setelah tamat dari MULO (setingkat SMP) dan AMS B (setingkat SMA), ia melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Gigi Stovit Surabaya, yang sekarang menjadi Universitas Airlangga. Selama kuliah, ia tinggal di rumah seorang Belanda yang terkesan dengan kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar.

Orang Belanda tersebut adalah ketua perkumpulan sepakbola HBS. Endang diizinkan tinggal dirumahnya dengan syarat harus memperkuat HBS dalam setiap pertandingan. Hal ini sempat membuat marah orang-orang Tionghoa yang tergabung dalam perkumpulan sepakbola Tionghoa Surabaya.

Tawaran Tionghoa FC agar Endang bermain di klub tersebut ditolaknya, dengan alasan bahwa ia tinggal di rumah ketua perkumpulan sepakbola HBS. Sikapnya ini kerap mengakibatkan ejekan dan disebut sebagai pengkhianat oleh orang-orang Tionghoa yang tergabung dalam perkumpulan sepakbola tersebut.

Saat Piala Jules Rimet (Piala Dunia) III digelar pada tahun 1938, Hindia Belanda lolos menggantikan Jepang dan Korea yang mengundurkan diri. NIVU atau organisasi sepakbola bentukan Belanda memanggilnya untuk bergabung dengan timnas Hindia Belanda, tapi ia menolak.

“Maaf, saya tidak bisa. Saya harus selesai kuliah tepat waktu. Saya bukan anak orang kaya. Saya tidak ingin mengecewakan orangtua saya yang telah banyak berkorban,” ujarnya.

Sikapnya ini kemudian mengendurkan kebencian orang-orang Tionghoa terhadap dirinya. Mereka tidak lagi menilai Endang sebagai seorang pengkhianat.

Pelatih Timnas Indonesia yang Belum Tertandingi

Kekacauan perang membuat Endang pindah ke Jakarta pada 1948. Suatu hari ia bertemu dengan kawan-kawannya sewaktu masih bermain di HBS Surabaya. Ia kemudian diajak untuk bergabung dengan VBO (Voetbalbond Bataviasche Omstreken)yang kebetulan akan mengadakan tur ke Singapura, Bangkok, dan Hongkong.

Setelah pulang dari rangkaian pertandingan tersebut, ia dan beberapa orang kawannya diundang makan malam oleh Tjoa Tjoen Bie, Ketua Perkumpulan Olahraga Union Makes Strength (UMS). Setelah yang diundang kekenyangan, Tjoa Tjoen Bie menyampaikan maksudnya: menawari mereka untuk bergabung dengan klub UMS. Mereka setuju.

UMS yang berdiri pada tahun 1905 adalah salah satu klub tua dan disegani di Jakarta. Mereka seperti klub sepakbola pada umumnya, mengalami pasang surut prestasi. Pada 2 Maret 1956, ketika pelatih UMS Karel Fatter kembali ke Hungaria, Endang menggantikan posisinya. Waktu itu UMS tengah terpuruk, tapi berkat kerja keras Endang akhirnya UMS berhasil menjuarai kompetisi Persija musim 1955/1956 tanpa menelan kekalahan sekali pun.

Tahun 1958 ia dan istrinya disekolahkan oleh T.D. Pardede, pengusaha asal Medan, untuk memperdalam ilmu kedokteran gigi ke Seattle, Amerika Serikat. Di sela-sela kesibukannya belajar, ia berburu buku-buku dan majalah sepakbola.  Dari sanalah ia kemudian menemukan pola permainan 4-2-4 yang diadopsi dari timnas Brazil yang menjuarai Piala Jules Rimet tahun 1958.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Endang kembali ke tanah air dan membuat UMS juara lagi liga internal Persija musim kompetisi 1959/1960. Ia juga berhasil membawa Persija menjuarai kompetisi perserikatan musim 1963/1964.

Kadir Jusuf dalam Sepak Bola Indonesia(1982) menyebut Endang sebagai pelatih yang menonjol di antara pelatih yang ada di Indonesia waktu itu, terutama karena mempopulerkan pola 4-2-4 yang tidak umum di Indonesia.

“Di tingkat nasional, Endang Witarsa menerapkan pula pola yang sama ke tim legendaris, Sucipto Suntoro cs., dan menjadi salah satu kesebelasan nasional kita yang paling disegani di Asia,” tulis Kadir Jusuf

Pada 1966, timnas Indonesia tampil di Piala Aga Khan, Pakistan. Endang sebagai pelatihnya menerapkan lagi pola 4-2-4 dan berhasil membawa Indonesia menjuarai turnamen tersebut. Di final, Indonesia mengalahkan tim tuan rumah Dakka Sporting Club 2-1. Setelah cukup bangga dengan berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne, prestasi tersebut adalah piala pertama Indonesia di ajang internasional.

Dua tahun berikutnya, Endang kembali mengantarkan Indonesia meraih prestasi dengan berhasil menyabet juara di turnamen Piala Raja di Bangkok dengan mengalahkan Burma 1-0 di partai puncak.

Pada 1972, digelar Piala Anniversary di Jakarta. Endang lagi-lagi menorehkan prestasi. Indonesia keluar sebagai juara setelah di partai final menghajar Korea Selatan 5-2.

Di tahun yang sama, tepatnya bulan Agustus, digelar Merdeka Games di Kuala Lumpur. Di partai final melawan Malaysia, meski sempat tertinggal 1-2, anak asuh Endang berhasil membalikkan keadaan menjadi 3-2.

Tiga bulan setelah Merdeka Games 1972, Indonesia tampil di turnamen internasional Pesta Sukan di Singapura. Kali ini di final terjadi “All Indonesia Final” antara PSSI A melawan PSSI B. Endang yang menangani PSSI A menjadi juara setelah menang dengan skor 2-1. Inilah gelar kelimanya yang diraihnya bersama timnas Indonesia. Sebuah torehan yang belum mampu ditandingi oleh pelatih Indonesia lainnya.

Namun prestasi Endang yang mentereng ini kiranya belum menjadi perhatian PSSI sebagai dokumentasi sejarah penting. Jika mencari di laman PSSI dengan mengetikkan nama “[Endang Witarsa]” atau “[Liem Soen Joe]”, kedua nama tersebut tidak ada.

infografik mozaik endang witarsa

Endang Witarsa di Mata Keluarga dan Kolega

“Tujuan saya di dunia adalah sepakbola, bukan dokter gigi,” ujar Endang kepada anaknya, Bujung Witarsa, seperti dikutip H. Isyanto dalam Dokter Bola Indonesia (2010).

Bujung menambahkan bahwa kesibukannya di sekolah tak memungkinkan dia untuk membolos, tapi jika ada perjalanan untuk main bola di luar kota, ayahnya tak banyak cing-cong untuk membuatkan surat minta izin dari sekolah.

Sementara anaknya yang lain, Yeni Witarsa, berkisah tentang ayahnya yang kerap menemukan pemain berbakat di banyak daerah, salah satunya Didik asal Tasikmaya. Endang mengambil Didik karena pemain itu mempunyai tendangan gledek.

“Menurut cerita, Didik diambil Papi karena menendang bola dengan keras sehingga bola mengenai pohon kelapa sampai buah kelapanya berjatuhan,” ujar Yeni.

Warta Kusuma, pemain yang disebut-sebut sebagai anak emas Endang bercerita bahwa dirinya diambil dari klub Bekasi Putra. Kepada ketua umum klub tersebut Endang menjamin bahwa ia akan membentuk Warta Kusuma sebagai pemain nasional hanya dalam waktu tiga bulan.

Ucapannya terbukti. Tiga bulan setelah digembleng Endang, Warta Kusuma masuk Timnas Indonesia untuk Pra Piala Dunia asuhan Sinyo Aliandoe. Selain itu, Endang juga menemukan bakat Widodo C. Putro, pemain asal Banjar Patroman yang kemudian berkali-kali memperkuat Timnas Indonesia dan berhasil mencetak gol spektakuler di ajang Piala Asia 1996.

Selain berhasil menemukan beberapa pemain berbakat, secara sosial—meski kerap memaki para pemainnya yang bermain jelek—Endang adalah sosok yang dicintai.

Benny Dolo, pemain yang ia rekrut untuk bergabung dengan klub UMS 80, menceritakan pengalamannya saat dilatih Endang. Saat UMS 80 kalah telak oleh Niac Mitra, Benny menyetel radio dengan keras di mes. Endang tiba-tiba mengambil radio tersebut dan membantingnya, lalu melemparnya ke dalam sumur.

Selang beberapa jam, Benny dipanggil Endang dan pelatih tersebut menanyakan harga radio yang telah ia lempar ke sumur.

Benny juga bercerita tentang dirinya yang sering meminjam uang kepada Endang. Namun saat ia mau membayar utang, Endang malah memarahinya.

“Memangnya kamu sudah kaya, ya?” ujar Endang.

Cerita Maman, pelatih anak gawang UMS, lain lagi. Suatu saat ketika latihan usai, Endang melihat ada pemain yang dipapah rekan-rekannya. Maman mengatakan bahwa pemain tersebut sakit. Endang langsung menyuruh Maman menjual aki mobil miliknya untuk biaya pengobatan pemain tersebut.

“Waduh, gimana ya? Saya tidak punya uang. Begini saja, deh, ambil aki di mobil saya. Jual, uangnya buat berobat dia di rumah sakit. Biar saya pulang naik taksi saja, deh, nanti bayar di rumah,” ujar Endang kepada Maman, dan ia pun pulang.

Pada 2 April 2008, tepat hari ini sepuluh tahun lalu, Endang Witarsa wafat. Selain dokter gigi, ia, seperti ditulis H. Isyanto dalam bukunya, adalah dokter bola Indonesia.

Kakak tiri Zaskia Sungkar dan Shireen Sungkar, Jamilah Sungkar, meninggal dunia akibat penyakit autoimun

60detik.com – Kakak tiri Zaskia Sungkar dan Shireen Sungkar, Jamilah Sungkar, meninggal dunia akibat penyakit autoimun, Sabtu (31/3/2018) di Amsterdam, Belanda, sekitar pukul 13:45 waktu setempat. Sebelum mengembuskan nafas terakhir, Jamilah Sungkar sempat dirawat oleh Zaskia Sungkar di kediamannya, di Jakarta, selama satu bulan.

“Pas Januari (2018) kemarin, Jamilah ke sini Zaskia yang rawat. Dirawat di rumah Zaskia sebulan,” ujar Fanny Bauty ibunda Zaskia Sungkar dan Shireen Sungkar, saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (1/4/2018) siang.

Selama satu bulan di rumah Zaskia Sungkar, Jamilah kerap melakukan olahraga yang bisa membuat daya tahan tubuhnya kembali normal. Sebab penyakit autoimun yang dideritanya, merusak sistem kekebalan dalam tubunya.

“Di rumah Zaskia sebulan ikut yoga, juga biar body-nya bagus, dan nafasnya enak,” ujar Fanny Bauty, ibunda Zaskia Sungkar.

 

Kembali ke Belanda

Jamilah Sungkar (Jamila Sungkar/foto istimewa)

Ketika kondisinya membaik, Jamilah kembali lagi ke Amsterdam, Belanda. Di sana memang anak sulung Mark Sungkar, dari pernikahan pertama itu menetap.

Namun pertengahan Maret kondisi kesehatannya kembali drop, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan Jamilah Sungkar sempat koma selama 4 hari sebelum meninggal.

Kondisi Drop

(Instagram/zaskiasungkar15)

“Januari di sini, Februari balik. Pas di sana kondisinya drop lagi, sempat koma juga sebelum meninggal dunia,” kata Fanny Bauty.

Menurut Fanny Bauty, hubungan anak-anaknya dengan Jamilah Sungkar sangat baik. Bahkan, pekan lalu,  saat anak bungsunya menikah, Yusuf Avero Sungkar, Jamilah ingin hadir. Namun lantaran kondisi kesehatannya drop, akhirnya dibatalkan.

Ambruk Lagi

Mark Sungkar dan Jamilah. (Instagram – @marksungkar)

“Pas kawinan Yusuf adik Zaskia, dia (Jamilah) mau dateng. Tiketnya sudah dibeliin tapi dia sakit lagi, ambruk lagi. Anaknya juga mau dateng. Kondisinya jatuh lagi. Soalnya kalau autoimun kondisinya naik turun,” kata Fanny Bauty.

Jadi Ketua Pemenangan Pilpres Gerindra, Ini yang Dilakukan Sandiaga Uno

60detik.com – Ketua Tim Pemenangan Pemilihan Presiden 2019 Partai Gerindra, Sandiaga Uno, mengaku tengah menjaring aspirasi masyarakat untuk menetapkan bakal calon presiden dan wakilnya.

“Saya rasa paling penting sekarang adalah menyerap aspirasi masyarakat dulu. Kalau Gerindra jelas mengusung Pak Prabowo Subianto jadi presiden di 2019,” kata Sandiaga Uno saat menghadiri deklarasi pemenangan pasangan Nur Suprianto-Adhy Firdaus di Pilkada Kota Bekasi, Minggu, 1 April 2018

Sandiaga Uno mengaku tak mau terburu-buru mendeklarasikan Prabowo Subianto menjadi calon presiden RI periode 2019-2024.

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra itu mengatakan, partainya kini fokus untuk menjaring aspirasi masyarakat sampai ke tingkat bawah.

“Sebab, apa yang diinginkan oleh partai dengan masyarakat belum tentu sepaham,” kata Sandiaga seperti dilansir dari Antara.

Menyelasarkan aspirasi

Sandi mengatakan, pihaknya harus menyelaraskan keinginan masyarakat dengan tuntutan hidup saat ini di Indonesia.

“Kita harus menyinkronkan dulu, mengoneksikan apa yang diinginkan oleh warga, lalu kita baru lakukan konsolidasi,” ujar dia.

Agenda kegiatan Sandiaga bersama Nur-Firdaus dilanjutkan dengan melakukan blusukan ke Pasar Jatiasih, Kota Bekasi untuk menyapa pedagang dan masyarakat.

Kehadiran mereka di pasar tradisional tersebut disambut antusias masyarakat di sana dengan berfoto bersama dan menjaring aspirasi dengan berdialog.

Perayaan Paskah, Umat Kristiani Usung Implementasi Persatuan

60detik.com – Umat Kristiani memperingati perayaan Paskah di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Persatuan dan kesatuan antar-umat beragama menjadi tema paskah tahun ini. Sementara itu, misa paskah diselenggarakan dengan khidmat dan lancar di Gereja Katedral Jakarta.

Seperti ditayangkan Fokus Sore Indosiar, Minggu (1/4/2018), ribuan umat kristiani dari Gereja Bethel berkumpul di Monas. Dalam acara ini hadir Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dia berharap umat dapat memelihara rasa toleransi.

 

“Pesan utama adalah persatuan. Karena persatuan yang menjadikan Indonesia. Pada hari ini semangat persatuan lah yang terlihat pada perayaan Paskah ini,” tambah Anies Baswedan.

Sementara itu, ribuan umat mengikuti misa pontifikal dalam perayaan Paskah di Gereja Katedral, Jakarta. Dalam ibadah yang dipimpin Uskup Agung Monsyinyur (Mgr) Ignatius Suharyo, momen paskah diharapkan mampu mengajak umat untuk menghindari segala bentuk keserakahan di masa kini.

Selain itu, tema paskah tahun ini adalah implementasi dari Pancasila sila ketiga yakni tentang persatuan. Dengan semboyan amalkan Pancasila “Kita Bhinneka Kita Indonesia”, Mgr Ignatius Suharyo berharap perbedaan seharusnya menjadi rahmat bukan sebagai penghambat.

Viral Balita Menikah, Alasannya Mengharukan

60detik.com – Peredaran sebuah video yang menunjukkan upacara pernikahan dua anak berusia kurang dari 3 tahun menjadi populer di dunia maya baru-baru ini. Kedua balita menikah itu lantas membuat haru banyak orang.

Upacara pernikahan spesial itu diadakan pada Senin 26 Maret 2018 di Beijing, China. Dihadiri oleh orang tua kedua mempelai cilik serta sejumlah relawan yang berharap mereka bisa sembuh.

Mereka terlihat amat serasi saat menikah. Mempelai perempuan mengenakan gaun berwarna merah jambu, sementara pengantin laki-lakinya dalam balutan jas berwarna gelap.

Seperti dikutip dari Asia One, Sabtu (31/3/2018), penyelenggara upacara pernikahan balita yang dilangsungkan selama satu jam, adalah seorang sukarelawan yang fokus membantu anak-anak dengan penyakit kronis. Han Yuqi namanya.

Menurut Han Yuqi, ada sejumlah relawan yang menawarkan tempat, dekorasi dan gaun pengantin untuk memenuhi impian mereka menikah.

Pernikahan tanpa pertukaran cincin atau perjamuan itu sejatinya melambangkan keinginan orang tua mereka agar anak-anaknya bisa hidup sampai dewasa nanti. Sekaligus mewujudkan impian buah hatinya untuk menikah.

“Dengan mengadakan pernikahan ini, kami ingin anak-anak tahu bahwa orang tua mereka tidak pernah putus asa (meski anak-anaknya mengidap leukimia),” kata Wu Laixin, ayah pengantin pria cilik. “Kami berharap anak-anak dapat mengadakan upacara pernikahan nyata suatu hari nanti.”

Kedua anak dari Provinsi Henan itu ternyata mengidap penyakit kronis yang mengancam nyawa. Mereka didiagnosis mengidap leukemia myelogenous pada tahun 2017 — sejenis leukemia akut yang sulit disembuhkan.

Kedua bocah itu menjalani perawatan medis di ruangan yang sama di Aerospace Center Hospital Beijing. Mereka telah menjalani beberapa kali kemoterapi, namun gagal meredakan gejala penyakitnya.

Kini keduanya tengah menunggu donor untuk transplantasi sumsum tulang belakang.

10 Potret Fasilitas Pekerja Mal Mewah Ini Justru Bikin Prihatin

60detik.com – Di Filipina, ada mal mewah bernama The Landmark. Seperti namanya, mal ini menjadi ikon di Makati City, Filipina. Pusat perbelanjaan ini terkenal karena kemewahannya. Yang banyak mengunjungi tempat ini juga biasanya kalangan ekonomi kelas menengah ke atas.

Namun postingan akun Facebook bernama Jennifer Maranon belum lama ini membuat geger masyarakat Filipina. Sebab, ia yang rencananya baru saja akan memulai bekerja di sini, langsung mengundurkan diri ketika melihat fasilitas untuk pekerja yang disediakan oleh manajemen.

Fasilitas untuk karyawan sangatlah berbanding terbalik dari keadaan mal yang mewah. Jennifer menggambarkan bahwa kamar mandi baik pria maupun wanita sangat kotor. Plafon yang sudah bolong-bolong serta kamar ganti yang sangat tidak nyaman. Jennifer juga menyertakan foto-foto betapa tidak bersih dan tidak sehat lingkungan tempat kerja tersebut.

Berikut ini 10 foto fasilitas pekerja mal mewah di Filipina yang justru bikin prihatin, seperti brilio.net lansir dari akun Facebook jennifer.maranion.1.

1. Di Filipina ada sebuah mal mewah bernama The Landmark.

2. Mal ini dikenal mewah dan pengunjung kebanyakan dari kalangan ekonomi kelas menengah ke atas.

3. Namun tak disangka, potret fasilitas pekerja mal mewah ini justru bikin prihatin.

4. Cerita ini viral berkat postingan Jennifer Maranon.

5. Lewat postingan Facebooknya ia beberkan semua kebobrokan fasilitas yang para karyawan dapatkan.

6. Jennifer ini tadinya akan memulai hari pertamanya bekerja di mal ini.

7. Namun ia buru-buru mengundurkan diri setelah melihat fasilitas buruk yang ia dapatkan.

8. Dalam postingannya, Jennifer berkata mewakili suara dari para karyawan yang tak berani untuk mengungkapkan fakta tersebut.

9. Kondisinya benar-benar tak sehat dan tak nyaman sama sekali.

10. Bagaimana bisa betah bekerja kalau fasilitas yang diberikan sejelek ini.