Dulu Diludahi dan Dilempari Batu, Kini Tampil di Piala Dunia

60detik.com – Diludahi, dilempari batu di jalan, dan harus menghindari pemboman, merupakan bagian dari perjalanan tim nasional sepak bola wanita Afghanistan ketika menuju tempat latihan.

Karena masalah keamanan itulah, pelatih mereka –mantan pemain tim nasional Amerika Serikat Kelly Lindsey– tidak pernah menginjakkan kaki di negara tersebut.

Tim nasional sepak bola wanita Afghanistan bahkan belum pernah bermain dengan 11 pemain sejak dibentuk pada tahun 2010.

Namun, dalam dua tahun terakhir sejak dilatih Lindsey, peringkat tim nasional sepak bola wanita Afghanistan membaik dari urutan 128 menjadi 106 di FIFA.

Kemajuan itu terlepas dari sifat unik tim tersebut karena semua pertandingan dan tempat latihan harus digelar di luar negeri untuk alasan keamanan.

(Foto: BBC.com)

Masalah Hidup dan Mati

Tim ini beranggotakan gabungan dari diaspora Afghanistan yang tersebar di seluruh dunia dan mereka yang masih bertahan di negara tersebut.

Bagi yang tinggal di luar Afghanistan, mereka bisa berlatih dengan tenang dan nyaman. Namun tidak demikian halnya dengan yang masih berada di Afghanistan.

Para pemain yang bertahan di dalam negeri menghadapi ancaman kekerasan dan kematian. Dalam budaya Afghanistan, mereka dianggap buruk karena merusak martabat dan reputasi keluarga mereka.

” Tidak mudah bagi mereka untuk berlatih. Mereka diludahi, dilempari batu, dan harus menghindari pemboman dalam perjalanan,” kata Lindsey.

” Penting untuk diketahui bagi para perempuan di luar sana, bahwa ini nyata. Benar-benar terjadi, gadis-gadis ini mengalaminya setiap hari,” jelas wanita 38 tahun itu.

Menurut studi terbaruĀ  kelompok Taliban masih aktif di 70 persen wilayah Afghanistan. Hal ini mengancam kebebasan yang dinikmati wanita Afghanistan sejak rezim Taliban digulingkan pada tahun 2001.

” Jika seorang wanita bermain sepak bola, maka ayahnya, saudaranya, pelatihnya, ibunya dihakimi oleh masyarakat di sekitar mereka,” kata Lindsey.

Lindsey kemudian bercerita tentang nasib keluarga direktur program timnya, Khalida Popal. Menurut Lindsey, kakak laki-laki Khalida ditikam sampai hampir meninggal dunia karena mengizinkan adiknya bermain sepak bola.

” Sungguh menakjubkan bagi saya bahwa setelah apa yang mereka alami setiap hari, mereka tetap saja ingin bermain sepak bola,” tambah Lindsey.

Kata Lindsey, tampil terbuka akan menjadi sorotan semua orang. Dan dengan ancaman Taliban, maka itu adalah urusan hidup dan mati bagi gadis-gadis tersebut.

Ingin Lolos ke Piala Dunia

Namun Lindsey mengakui semangat dan gairah yang ditunjukkan gadis-gadis yang dilatihnya. Mereka bermain demi kebanggaan bangsanya.

” Meskipun tim nasional lain juga memiliki itu, tapi gadis-gadis ini mengetahui betul tantangan yang mereka hadapi setiap hari, keutuhan mereka butuhkan dan masa depan yang akan membawa mereka keliling dunia. Semoga saja.”

Lindsey mengatakan ambisi utama mereka adalah lolos ke Piala Dunia. Namun Afghanistan masih berada di luar peringkat 100 FIFA dan tak banyak pemain yang bisa menginspirasi mereka.

Tuan rumah Yordania akan menjadi satu-satunya negara Islam di kejuaraan sepak bola wanita Piala Asia, April nanti yang sekaligus menjadi ajang kualifikasi untuk Piala Dunia 2019.

Dengan latihan yang tidak bisa maksimal karena masalah keamanan dan keterbatasan sang pelatih, wajar saja jika perkembangan tim nasional sepak bola wanita Afghanistan berjalan lambat.

Apalagi Lindsey tak bisa menemui pemainnya hingga Juni nanti, saat mereka melakukan tur ke Jepang. Tapi Lindsey punya ambisi yang besar untuk timnya.

” Kami sedang berusaha membangun tim ini untuk bisa bersaing dan lolos ke Piala Dunia. Bila itu terjadi, maka tugas saya sudah selesai,” pungkasnya.

About author View all posts Author website

60detik

Leave a Reply